Jurnal - KOMAS (Implementasi Cyber Village dalam Mewujudkan Masyarakat Melek Teknologi Informasi dan Komunikasi Berbasis Internet di Daerah Pegunungan)
Implementasi Cyber Village dalam Mewujudkan Masyarakat Melek
Teknologi Informasi dan Komunikasi Berbasis Internet di Daerah
Pegunungan (Studi Kasus di Desa Campurejo, Kecamatan Tretep,
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah)
Pendahuluan
Keberadaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) berbasis Internet didesa dipandang sebaga katalisator perubahan dalam berbagai aspek baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kinerja pemerintahan desa (Renade,2015). Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 memaparkan bahwa sejak tahun 1990an Indonesia telah mengalami perkembangan Internet yang sangat pesat. Total pengguna Internet mencapai 132 juta orang (Kemkominfo,2016). Akan tetapi, peningkatan ini ternyata tidak dibarengi dengan pemerataan penggunaan Internet di Indonesia secara geografis. Diperkuat dalam penelitian (Yusuf,2013) memaparkan bahwa dilihat dari landskape keberagaman kondisi geografis di Indonesia menunjukan bahwa perkembangan infrastruktur dan TIK di Indonesia sampai saat ini masih terkosentrasi diwilayah perkotaan. Kondisi inilah yang pada akhirnya menciptakan apa yang disebut dengan kesenjangan digital atau digital divide.
Potret di Indonesia memperlihatkan untuk mengurangi kesenjangan digital antara desa dan kota. Pemerintah pusat mengeluarkan Instruksi Presiden Tentang Rencana Aksi Teknologi Informasi
Komunikasi Nasional (Dewi,2013). Rencana aksi ini menyatakan bahwa TIK harus digunakan untuk memberdayakan warga negara, meningkatkan kesejahteraan mereka, mengurangi kemiskinan dan menghilangkan kesenjangan digital. Akan tetapi, yang menjadi persoalan adalah menurut (Yusuf,2013) pada tataran diskusi yang lebih praktis, pemanfaatan TIK disinyalir belum mampu menjawab berbagai persoalan riil masyarakat. Fakta dilapangan menunjukan pemanfaatan TIK belum memberi dampak bagi peningkatan kesejahteraan warga atau reformasi hukum secara sistemik. Penyebab, terhambatnya kemajuan pengaplikasian TIK dimasyarakat diantaranya disebabkan oleh faktor sumber daya manusia yang belum siap mengadopsi secara baik (Sari,2013). Menuurut (Myers &Stanford,2007), bahwa kegagalan tersebut juga disebabkan karena para aktor yang terlibat terlalu memfokuskan pada pengembangan teknologi dan melupakan aspek aspek non teknis atau manusia. Dalam penelitian (Wahyono, 2011) memaparkan bahwa program pengembangan desa berbasis informasi dan sadar Internet di Indonesia selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan, mulai dari persoalan teknologis hingga aspek budaya.
Implementasi Cyber Village menjadi salah satu langkah yang solutif dalam melakukan percepatan melek teknologi dan informasi berbasis Internet. Cyber Village merupakan sebuah desa berbasis TIK yang mengembangkan sistem jaringan Internet (Habibah,2011). Desa Campurejo mendapatkan julukan Desa Cyber pertama dan satu-satu di provinsi Jawa Tengah. Sebagai desa yang secara geografis berada di area pegunungan dengan ketinggian lebih dari1700dpl ternyata tidak mematikan ide masyarakat untuk memperoleh informasi secara cepat melalui Internet. Hal ini dibuktikan dengan di implementasikanya jaringan Cyber didesa Campurejo pada tahun 2014 hingga sudah berkembang sampai saat ini.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan tipe studi kasus intrinsik. Jenis data penelitian ini adalah data primer dan skunder. Sumber data diperoleh melalui metode wawancara, obeservasi dan studi pustaka. Data wawancara mengambil tiga narasumber dengan teknik snowball. Untuk memperkuat data juga dilakukan dengan dokumentasi yang diambil dari bukti-bukti hasil foto dan video documenter serta melakukan pengkajian dan perbandingan studi pustaka dari penelitian implementasi desa Internet. Analisa data menggunakan teori faktor implementasi dari Edward III (1980) dilihat dari faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Uji validitas data penelitian ini menggunakan trianggulasi sumber. Sedangkan teknik analisis datan menggunakan analisis data kualitatif dari (Creswell, 2013).
Hasil dan Pembahasan
Faktor –faktor yang mempengaruhi Implementasi Cyber Village CampurejoHasil dan Pembahasan
Edward menjelaskan bahwa keempat variabel yang mempengaruhi implementasi saling berinterkasi satu sama lain. Faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi mempengaruhi secara tidak langsung terhadap implementasi kebijakan. Disamping itu terdapat pengaruh tidak langsung diantara variabel tersebut, yaitu melalui dampak satu sama lain. Keempat faktor ini akan digunakan untuk mengetahu implementasi Cyber Village Campurejo:
1) Tranformasi Informasi
Analisa komunikasi terbagi kedalam dimensi tranformasi informasi, kejelasan informasi dan konsistensi. dalam dimensi transmisi akan dijabarkan kedalam dua proses yaitu transformasi informasi antara Kepala Desa Campurejo dengan teknisi jaringan cyber. Yang kedua proses transformasi informasi pemerintah Desa Campurejo kepada masyarakat. Berdirinya Cyber Village Campurejo pada dasarnya merupakan sebuah proses “gayung bersambut” dari ide kepala desa, keluhan pemuda, dan pertemuan dengan teknisi jaringan. Oleh sebab itu, terjadilah proses pertukaran informasi mengenai jaringan wifi untuk di implementasikan di Desa Campurejo. Proses pertukaran informasi antara Kepala Desa dan Teknisi Pekalongan berjalan dengan baik tanpa ada ada permasalahan, karena sudah ada kesamaan pandangan dan konsep antar keduanya.
2) Kejelasan Informasi
Dimensi kejelasan informasi dalam implementasi Cyber Village Campurejo sesuai temuan ada lapangan jelas tersampaikan. Baik informasi yang disampaikan kepada perangkat, pemuda, dan masyarakat semuanya memahami dengan jelas. informasi yang dijeaskan mengenai di implementasikanya Cyber Village menitik beratkan pada tujuan dan manfaat di implementasikanya jaringan Cyber, mulai dari kemudahan untuk malakukan komunikasi dan memperoleh sumber informasi, sumber pembiayaan dana, penghematan pengeluaran untuk membeli kuoata serta pihak ketiga yang melakukan kerjasama.
3) Konsistensi
Akan tetapi, dalam dimensi konsistensi proses komunikasi dan sosialisasi dalam pengembangan Cyber Village yang dilakukan Pemerintah Desa Campurejo masih kurang konsisten. Dikarenakan selama tiga tahun berdiri baru diadakan sosialisasi resmi baru satu kali. Komunikaasi dalam pembelajaran serta perluasan mengenai penggunaan Cyber Village terbentuk secara alamiah dan bersifat personal antara pengelola dan masyarakat melalui media rutinitas yang ada didesa seperti yasinan, tahlilah, pengajian, kumpulan kelompok tani.
4) Sumber Daya
Analisa implementasi Cyber Village dilihat dari faktor sumber daya terbagi kedalam tga dimensi yaitu sumber daya manusia, anggaran dan fasilitas. Berikut hasil analisa berdasarkan temuan data dilapangan yang diperoleh:
i) Sumber Daya Manusia
Berdasarkaan temuan data dilapangan secara jumlah sumber daya aparatur desa sudah proporsional. Akan tetapi jika menurut keahlian dan kompetensi belum memenuhi. Sebagian besar aparatur desa belum sepenuhnya memahami dan menguasi TIK berbasis Internet. Dalam segi jumlah pengelola jaringan juga masih terbatasa. Kualitas SDM masyarakat Campurejo juga masih rendah dikarenakan sebanyak 3435 lulusan SD dan sebanyak 3.405 berprofesi sebagai petani yang belum mengenal dengan teknologi Internet sebelumnya. Hal inilah kemudian berdampak pada perlambatan pengembangan dari implementasi Cyber Village Campurejo. Karena dari segi SDM pada belum siap untuk mengadopsi dan mengelola hadirnya sebuah teknologi baru. Sehingga Cyber Village ini merupakan sesuatu barang baru bagi masyarakat Campurejo khsusunya. Bukti ini semakin diperkuat dalam (Sari,2013) dalam penelitianya memaparkan masalah klasik di Indonesia terhambatnya kemajuan perkembangan dan pengaplikasian TIK berbasis Interrnet dimasyarakat disebabkan karena sumber daya manusia yang belum siap dalam mengadopsi dan menjalanankan teknologi secara baik.
Permasalahan lain mengenai implementasi dalam pegelolaan Cyber Village Campurejo bahwa sebagian masyarakat terutama dikalangan pemuda juga belum memiliki kesadaran untuk tutut berpartisipasi mengelola dan memelihara fasilitas penunjang Cyber. Bahwa sebagian besar pemuda dan masyarakat sampai saat ini hanya aktiv sebagai pengguna dan pasif sebagai pengelola serta pemelihara. Akan tetapi meskipun pengembangan Cyber Village Campurejo mengalami perlambatan.
Peran aspek SDM dalam kelembagaan melalui kelompok petani memberikan kontribusi yang positif dalam pengelolaan infrastruktur telekomunikasi untuk kepentingan produktif. SDM kelompok tani mampu memanfaatkan untuk budidaya dan pengembangan pertanian. Internet mereka jadikan sarana untuk belajar dan mencaari solusi apabila pertanian mereka mengalami permasalahan.
ii) Anggaran
Dalam hal pembiayaan pengembangan dari Implementasi Cyber Village juga terbatas. Bahwa biaya alokasi yang dianggarkan untuk perlusan jaringan Cyber tidak sebanding dengan luas dari Campurejo. Terkait keputusan pembiayaan Cyber Village sepenuhnya tergantung dari keputusan kebijakan didalam musrenbangdes. Selain itu, dalam hal penyediaan fasilitas juga masih terkesan dibisniskan oleh penyedia server jaringan. Berdasarkan temuan dilapangan bahwa kerjasama yang paten dengan PT.Telkom dalam hal bentuk CSR sampai saat ini belum ada. Pemerintah Desa saat ini hanya sebatas membeli sinyal Cyber Optic saja sehingga kekuatan sinyal tergantung pada belinya sinyal dipusat.
iii) Fasilitas
Dari segi fasilitas Cyber Village Campurejo saat ini sudah terpasang tiga antena. Akan tetapi jangkauan akses baru bisa diakses sampai ke tiga dusun, yaitu dusun Gondang, Dusun Balong, dan Dusun Krajan. Sedangkan tiga dusun diatasnya Pringwulu, Pringlegi dan Sarangan masih belum bisa terkases dikarenakan letak topografinya yang sulit dan curam. Kekuatan sinyal juga masih belum stabil sinyal yang berikan oleh PT. Telkom ditahun awal yang 10Mega sekarang diturunkan menjadi 6Mega dan ini harus dibagi kedalam 3 titik yaitu 2mega untuk Cyber indoor. Disatu sisi fasilitas pendukung yang menunjang kinerja Pemerintah Desa Campurejo berdasarkan analisa peneliti sudah baik. Kantor desa saat ini sudah memilki ruang rapat yang diberikan fasilitas khusus untuk video conference dala hal ini sudah terdapat satu layar lebar, satu televsi layar datar(LED), dua komputer dan empat laptop, ditambah kapasitas jaringan wifi kantor desa sebesar 2 mega byte.
Sebagai fasilitis penunjang Cyber Village Desa Campurejo saat ini sudah memilki dua portal website yang dibuatkan oleh Kominfo dan Kementrian Desa. Website Desa tersebut menjadi salah satu media yang dimanfaatkan oleh pemerintah desa Campurejo untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat umum. Adanya fasilitas website desa memiliki tujuan untuk membangun keterbukaan informasi publik bagi masyarakat. Pola pembaharuan informasi pada website desa idealnya dilakukan setiap hari, namun karena keterbatasan sumber daya pengelola website sehingga pembaharuan informasi website sering tidak di update dan sering mengalami error.
Kemudian dari sisi fasilitas penunjang dan pendukung untuk mengakses jaringan Cyber Village dikalangan masyarakat sebagian besar menggunakan smart phone.Belum dibuatkan semacam klinik IT komputer sebagaisarana pembelajaran bagi masyarakat umum. Akan tetapi juga sudah ada beberapa pemuda yang memiiki laptop dan sering digunakan untuk mengakses jaringan Cyber. Pemuda yang memilki laptop rata-rata hanya yang menempuh pendidikan SMA ke atas.
iv) Disposisi atau Sikap Pelaksanaan
Berdiri dan berkembangnya Cyber Village Campurejo tidak terlepas sikap para pelaksana (implementor) yang terlibat. Sinergitas para aktor pendiri, dan penggerak, melahirkan suatu bentuk translansi aktor jaringan yang cukup kuat dalam dunia Cyber Village Campurejo. Sehingga, dalam kurang waktu 3 tahun terakhir Cyber Village Campurejo terus berkembang kearah positif meskipun berjalan sangat pelan.
0 komentar:
Posting Komentar